TAWASUL DAN SYAFAAT

*🍃📚TAWASSUL DAN SYAFAAT*

Bismillah

⏩ Dengan apa kita bertawasul (menjadikan perantara) kepada Allah?


Jawab: 

*Tawasul ada yang dibolehkan dan ada yang dilarang.*

1. Tawasul yang dibolehkan dan dituntut adalah tawasul dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah dan tawasul dengan amal saleh. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan hanya milik Allah lah nama-nama yang paling indah, maka berdoalah kepada Allah dengan menyebutnya.” (QS. Al-A’raf: 180). Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah kepadaNya.”

Yakni mendekatlah kepada Allah dengan mentaatiNya dan mengerjakan apa yang Allah ridhai. (QS. Al-Maidah: 35).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku meminta kepadaMu dengan seluruh nama yang Engkau miliki.” (Sahih riwayat Ahmad). Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para shahabat yang meminta untuk menjadi teman beliau di surga,

“Bantulah aku untuk dirimu dengan memperbanyak sujud.” Yakni shalat dan ini termasuk amal saleh. (HR. Muslim).

Dan boleh bertawasul dengan amalan yang kita cintai dan amalan yang dicintai Allah, Rasul, dan wali Allah. Seperti kisah orang-orang yang terperangkap di dalam gua, mereka bertawasul dengan amal-amal shalih sehingga Allah selamatkan mereka.

2. Tawasul yang dilarang yaitu berdoa kepada orang mati dan meminta dipenuhi kebutuhan kepada mereka, sebagaimana kenyataan pada masa ini.

Dan ini adalah syirik akbar berdasarkan firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan janganlah engkau menyembah apa-apa yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak dapat memberi mudharat kepadamu selain Allah. Sebab, jika engkau melakukannya, maka sungguh engkau kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.” Yakni termasuk orang-orang musyrik. (QS. Yunus: 106).

3. Adapun tawasul dengan kedudukan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti ucapan Anda: Wahai Rabbku, dengan kedudukan Nabi Muhammad, sembuhkanlah aku. Maka ini adalah bid’ah, karena para shahabat tidak melakukannya. Juga karena ‘Umar bertawasul dengan Al-‘Abbas yang masih hidup dengan doa beliau. ‘Umar tidak bertawasul dengan Rasul setelah meninggalnya beliau. 

Dan tawasul ini sering mengantarkan kepada kesyirikan. Yakni apabila ia berkeyakinan bahwa Allah butuh kepada  seorang  perantara  sebagaimana  seorang  pemimpin  dan  hakim.  Karena keyakinan ini berarti menyerupakan Allah Al-Khaliq dengan makhluk.

*⏩ Apakah doa itu butuh kepada perantaraan seseorang?*

Jawab: 
Doa tidak membutuhkan perantaraan seseorang berdasarkan firman Allah ta’ala yang artinya,  “Dan  jika  hamba-hamba Ku bertanya kepadamu tentang  Aku,  maka  (jawablah) sesungguhnya Aku dekat.” (QS. Al-Baqarah: 186).

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sungguh kalian berdoa kepada Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat dan Dia bersama kalian."
Yakni dengan ilmuNya. (HR. Muslim)

*⏩ Apakah boleh meminta doa dari orang-orang yang masih hidup?*

Jawab: 
Boleh meminta doa dari orang-orang yang masih hidup, tidak boleh dari orang yang sudah meninggal. Allah ta’ala berfirman berbicara kepada Rasul ketika masih hidup, artinya, “Dan mintalah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang yang beriman, laki -laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19). Dan di dalam hadits sahih yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, “Bahwa ada seseorang yang buta matanya mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata: Berdoalah kepada Allah agar menyembuhkanku.."

*⏩ Apakah bentuk perantaraan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam?*

Jawab: 
Bentuk perantaraan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penyampaian syariat. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu.” (QS. Al-Maidah: 67). Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, saksikanlah.” Ketika menjawab ucapan para shahabat: Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan (HR. Muslim).

*⏩ Dari siapakah kita meminta syafaat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam?*

Jawab: 
Kita meminta syafaat Rasul dari Allah. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Katakanlah, semua syafaat itu hanya milik Allah.” (QS. Az-Zumar: 44). 

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari para shahabat untuk mengatakan, “Ya Allah, jadikanlah dia (Rasul) pemberi syafaat untukku.” (Hasan sahih diriwayatkan oleh At-Tirmidzi).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Sesungguhnya aku menunda doaku sebagai syafaat pada hari kiamat untuk siapa saja yang meninggal dari kalangan umatku yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun.” (HR. Muslim).

*⏩ Apakah kita boleh meminta syafaat dari orang-orang yang masih hidup?*

Jawab:
Kita boleh meminta syafaat dari orang-orang yang masih hidup dalam perkara-perkara duniawi. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Siapa saja yang memberi syafaat yang baik, dia akan mendapatkan bagian (pahala) darinya. Dan siapa saja yang memberi syafaat yang jelek, dia akan memikul bagian (dosa) darinya.” Yakni bagian dari dosanya. (QS. An-Nisa`: 85). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berikanlah syafaat, maka kalian akan diberi pahala.”
(Sahih diriwayatkan oleh Abu Dawud).

*⏩ Apakah kita boleh menambah dalam menyanjung Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam?*

Jawab:
Kita tidak menambah dalam menyanjung beliau. 

Allah Ta’ala berfirman dalam Al Kahfi 110:

“Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Esa.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku sebagaimana orang Nasrani berlebih-lebihan memuji Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka ucapkanlah: ‘Hamba Allah dan RasulNya’.” [HR. Al-Bukhari]


*(Ambil Akidahmu dari Al Quran dan As Sunnah yang shahih, Syaikh Muhammad Bin Jamil Zainu rahimahullah)*


📎Sunnah dijaga dengan kebenaran, kejujuran, dan keadilan bukan dengan kedustaan dan kedhaliman."
(Ibnu Taimiyyah rahimahullahu)

──────⊱◈◈◈⊰──────

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ONE PIECE bajak Laut yang baik Hati

ANTARA TOLERANSI DAN KEBERSAMAAN

BATILNYA KONSEP TRINITAS DALAM NASRANI